BatikWastraWisata

Berkunjung ke Kampung Batik Tulis Ciwaringin

posted by Rika Isvandiary Februari 17, 2017 0 comments
Pemandangan di Desa Ciwaringin

Pemandangan di Desa Ciwaringin

Kampung Batik Tulis Ciwaringin. Nama daerah ini mungkin belum terlalu akrab di telinga kita. Satu sudut di Kabupaten Cirebon yang jauh dari hingar-bingar metropolitan. Di tempat ini, Desa Ciwaringin, terhampar permadani hijau dari padi-padi yang berbaris rapi. Nun jauh di sana, beberapa gunung berdiri kokoh. Menambah sempurna panorama pedesaan yang indah dan asri.

Bagi kami, ini adalah perjalanan pertama kami ke Kampung Batik Ciwaringin. Untungnya kampung batik ini tidak terlalu sulit dicari. Kurang lebih setengah jam saja ke arah barat dari Kota Cirebon, kami sudah bisa memanjakan mata dengan ragam hias Batik Tulis Ciwaringin. Dan sesuai dengan namanya, batik-batik yang diproduksi di Kampung Batik Tulis Ciwaringin merupakan batik tulis. Kami pun semakin tak sabar untuk menyelami lika-liku batik tulis Ciwaringin. Berikut hasil penelusuran kami saat mengunjungi Kampung Batik Tulis Ciwaringin.

Asal-Usul Kampung Batik Ciwaringin

Sesaat memasuki Kampung Batik Tulis Ciwaringin, kami disambut dengan gapura besar yang menandakan eksistensi daerah ini. Memang tempat ini tak sepopuler daerah Trusmi di Cirebon. Bisa dibilang Kampung Batik Tulis Ciwaringin baru beberapa tahun dikembangkan secara serius. Meski begitu, aktivitas membatik sudah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Kampung Batik Tulis Ciwaringin.

Gapura Kampung Batik Tulis Ciwaringin

Gapura Kampung Batik Tulis Ciwaringin

Menurut cerita, Kampung Tulis Batik Ciwaringin bermula dari keberadaan Desa Babakan Pesantren di Kecamatan Ciwaringin. Selain belajar mengaji, para santri di Ciwaringin juga belajar membatik. Keterampilan membatik ini konon diajarkan oleh istri dari K.H. Mohammad Amin. Semakin lama santri yang belajar di Desa Babakan pun semakin banyak. Sebagian dari mereka adalah santri kalong—yang mengaji di Desa Babakan pada siang hari dan setelah itu kembali lagi ke desanya. Para santri kalong ini juga berkontribusi mengembangkan produksi batik di Ciwaringin.

Sayangnya, Batik Ciwaringin sempat mati suri. Popularitasnya kalah jauh jika dibandingkan dengan Kampung Batik Trusmi di Cirebon. Padahal, batik produksi Ciwaringin juga dipasarkan di Trusmi. Baru setelah adanya pengakuan bahwa batik adalah warisan dunia non benda dari UNESCO pada tahun 2009, kejayaan Batik Tulis Ciwaringin kembali dibangun. Salah satu yang berjasa membangun kembali Batik Tulis Ciwaringin adalah Ibu Uswatun Hasanah. Selain berniat meneruskan usaha batik milik keluarga, Ibu Uswatun juga ingin membantu para perempuan yang ada di Ciwaringin.

Seorang ibu yang sedang nembok (menutup latar) kain batik

Seorang ibu yang sedang nembok (menutup latar) kain batik

Dahulu, banyak perempuan di Desa Ciwaringin yang meninggalkan keluarganya untuk menjadi TKW di luar negeri. Pelan-pelan Ibu Uswatun mulai memberdayakan mantan TKW di daerahnya dengan mengajarkan keahlian membatik. Batik Tulis Ciwaringin pun bangkit kembali. Kini keindahan Batik Tulis Ciwaringin bisa dengan mudah kita temukan di Kampung Batik Tulis Ciwaringin yang terletak Kecamatan Ciwaringin, Kabupaten Cirebon.

Geliat Warna Alam di Kampung Batik Tulis Ciwaringin

Tak hanya bertahan dengan produksi batik tulis, Kampung Batik Tulis Ciwaringin juga konsisten dengan produksi batik warna alam. Hampir 80% batik yang dijual di Kampung Batik Tulis Ciwaringin adalah batik tulis warna alam. Penggunaan pewarna alam di Kampung Batik Tulis Ciwaringin mulai marak digunakan sejak EKONID melakukan sosialisasi program Clean Batik Initiative (CBI) pada tahun 2011.

Program ini disambut baik pembatik yang ada di Kampung Batik Tulis Ciwaringin. Selain menjaga kelestarian alam, batik tulis warna alam juga menambah nilai jual batik yang diproduksi di Kampung Batik Tulis Ciwaringin. Warna alam yang lembut dan tak terlalu mencolok, umumnya lebih diminati oleh konsumen dari luar negeri.

Batik-batik tulis Ciwaringin yang sedang dijemur

Batik-batik tulis Ciwaringin yang sedang dijemur

Proses pewarnaan batik dengan pewarna alami memakan waktu yang lebih lama. Kain yang digunakan juga tidak boleh sembarangan. Pewarna alam hanya bisa meresap sempurna pada kain katun mori jenis primisima (GA, Tiga Bendera, Kereta Kencana dan Cap Cent) yang harganya lebih mahal dari katun mori jenis prima ataupun biron. Pada saat pencelupan warna pun harus dilakukan berkali-kali, ini karena pewarna alami tidak seterang pewarna sintetis. Menjemurnya pun harus memperhatikan cuaca dan sinar matahari, sehingga lama pengerjaannya sangat bergantung dengan kondisi alam.

Umumnya pewarna alami yang digunakan di Kampung Batik Tulis Ciwaringin diperoleh dari tanaman yang tumbuh di sekitar tempat tinggal pembatik. Tetapi ada juga yang dibeli dari luar Ciwaringin. Pewarna alami yang banyak digunakan antara lain pewarna alami indigofera/nila/tarum yang akan menghasilkan warna biru. Warna coklat yang banyak ditemukan dalam batik tulis produksi Kampung Batik Tulis Ciwaringin diperoleh dari kayu mahoni. Sementara mangga akan menghasilkan warna kuning kehijauan. Agar tak larut saat proses lorod, pewarna alami harus “diikat” dengan tawas, kapur, atau tunjung. Hasil dari pewarna alami yang diikat/difiksasi dengan tawas, kapur, ataupun tunjung juga sangat berbeda.


Referensi

Kudiya, Komarudin, dkk, Batik Pantura Urat Nadi Penjaga Tradisi: Ragam dan Warna Batik Pesisir Utara Jawa Barat, (Jawa Barat: Yayasan Batik Jawa Barat dan Bank Rakyat Indonesia, 2016)

You may also like

Leave a Comment