BatikWastra

Rupa, Warna, dan Cerita Batik Sidoarjo

posted by Rika Isvandiary Februari 6, 2017 0 comments
Batik Sidoarjo

Batik Sidoarjo dari Kampoeng Batik Jetis (Foto: Wijayanto BS)

Bertandang ke Sidoarjo selalu menjadi kesempatan yang istimewa. Begitu besar pesona kota ini dengan seribu satu cerita yang bergulir sejak masa kejayaan pabrik gula hingga luapan lumpur Lapindo. Sidoarjo barangkali seelok kisah Nyai Ontosoroh dalam Tetralogi Buru. Pramoedya Ananta Toer, Sang Penulis Tetralogi Buru menggambarkan Nyai Ontosoroh sebagai perempuan asli Sidoarjo yang diperistri Herman Malemma—juragan gula yang juga tuan tanah. Nyai Ontosoroh dikabarkan selalu memakai kebaya encim dan kain batik motif kembang setaman berwarna cerah, khas sekali dengan gaya para Nyai dan perempuan peranakan kala itu.

Saya memang tak pernah bisa melepaskan Sidoarjo dari bayangan Nyai Ontosoroh dan sejarah tentang gula, serta kekayaan alamnya yang berlimpah. Masih lekat dalam ingatan, tepatnya di tahun 1830. Pemerintahan Kolonial Belanda menderita kerugian besar akibat perang Diponegoro. Tidak dapat dihindari lagi, Belanda harus berpikir ekstra keras untuk kembali mengisi pundi-pundi negara mereka. Raja Willem 1 memberikan mandat kepada Van den Bosch untuk mengelola tanah jajahan di Hindia. Demi kembali meraup keuntungan besar, Van den Bosch menerapkan tanam paksa. Sebuah kebijakan yang tidak terlalu berbeda dengan sewa tanah ala Raffles. Sama-sama menjadikan ‘domein verklaring’ sebagai sejata ampuh merampas tanah rakyat Indonesia. Sedikit berbeda dengan konsep Raffles, tanam paksa tidak meminta pemilik tanah untuk membayar pajak ataupun sewa, akan tetapi 1/5 dari tanah yang dimiliki harus ditanam dengan tanaman yang telah ditetapkan Pemerintah Kolonial. Dapat dipastikan kebijakan ini menjadi satu titik penting yang tak terlupakan dari sejarah panjang perkebunan di Indonesia.

Memang perkebunan tebu di Jawa Timur telah hidup sebelum tahun 1830, namun dengan didukung adanya kebijakan tanam paksa, maka perhatian terhadap perkebunan tebu kian mendapat porsi utama. Hal ini menjadikan Jawa Timur sebagai daerah pertama di Indonesia yang terkena dampak revolusi Industri. Keberadaan perkebunan tebu dan pabrik gula yang ‘lapar tanah’ menyebabkan tanah produksi rakyat terampas dan berakibat pada perubahan sosial. Sebuah kenyataan pahit, perubahan yang terjadi berbuah pemborantakan di distrik Gedangan Sidoarjo. Hingga masa berlalu beberapa kurun dan legenda tanah gula mulai terlupa dari benak kita. Namun tidak dengan sehelai batik yang setia merayakan perjalanan waktu dan pergantian rupa Sidoarjo. Ya, bagaimanapun juga, batik adalah karya seni yang (diharapkan) selalu jujur “bertutur” akan realita zaman. Itulah sebabnya batik diakui sebagai warisan dunia non benda—yang juga menjadi bagian dari budaya bertutur.

Tengok saja ragam hias batik Sidoarjo yang terus merangkai kisah yang bergulir di kota ini. Ada motif kembang tebu yang dikenal juga dengan Teboan. Konon ini termasuk salah satu motif klasik Sidoarjo. Tentu saja, status Sidoarjo sebagai salah satu pusat gula di pulau Jawa membuat Sidoarjo memiliki ribuan hektar kebun tebu. Ini menjadi inspirasi pembatik setempat untuk mengabadikan kenangan kebun tebu dalam ragam hias batik. Ada juga motif beras wutah yang berarti beras tumpah/melimpah. Memang jika diperhatikan, hingga hari ini pun masih membentang hamparan padi yang memukau di Sidoarjo. Mensyukuri anugerah kota yang subur, para pembatik mencurahkan ekspresinya dalam motif beras yang tampak “berceceran”. Motif lainnya adalah motif kembang bayam, ini juga merupakan gambaran hasil alam Sidoarjo yang melimpah. Beberapa motif ini mulai berkembang tahun 1980-an dan telah mendapat pengaruh dari budaya Madura yang menyukai warna cerah. Sebelumnya (tahun 1675 hingga 1970-an) batik Sidoarjo cenderung berwarna gelap. Hingga tahun 1980-an, batik Sidoarjo tidak memuat gambar binatang.

Motif Rawan Sidoarjo

Batik Motif Rawan (Instagram: kainusa.id)

Memasuki tahun 1990-an, selera pasar berubah. Budaya bercocok tanam semakin menurun. Sidoarjo pun berubah wajah. Begitu pula ragam hias batik Sidoarjo. Motif-motif baru mulai bermunculan seperti motif rawan yang berarti rawa. Motif ini menggambarkan kondisi Sidoarjo sebagai wilayah pesisir yang memiliki daerah rawa-rawa. Jika rawa digambarkan lurus disebut Rawan Kenceng, namun jika rawa digambarkan berkelok-kelok maka disebut Rawan Inggek/Enggok. Ada juga motif Mahkota yang begitu indah hingga dijadikan hantaran wajib saat lamaran. Motif yang juga berkembang di era ini adalah motif 8 penjuru. Motif ini sendiri tidak hanya ada di Sidoarjo, namun bisa juga ditemukan di daerah Tasikmalaya.

Batik Tulis Sidoarjo Motif Mutiara

Batik Tulis Sidoarjo Motif Mahkota (Instagram: kainusa.id). Beli di sini.

Lepas tahun 1990-an, hadir tahun 2000-an yang sering disebut era millenium. Batik Sidoarjo kembali mengukir kisahnya sendiri. Motif-motif baru kembali menghiasi hasil karya para pembatik. Sebutlah motif kupu-kupu, sawunggaling, kangkung, ukel, belah ketupat, capung dan teratai. Juga motif kipas yang sangat disukai konsumen—terutama yang berasal dari Madura. Tidak ketinggalan motif Udang-Bandeng yang merupakan salah satu ikon kota Sidoarjo. Warnanya pun semakin beragam dan semarak.

Batik Tulis Sidoarjo Motif Belah Ketupat

Batik Tulis Sidoarjo Motif Belah Ketupat (Instagram: kainusa.id)

Saya pun semakin jatuh cinta pada batik Sidoarjo. Betapa tidak, hanya dengan menyelami ragam motifnya saja, kita seperti berada dalam putaran mesin waktu. Melancong ke kota Sidoarjo dari tahun 1675 hingga saat ini. Seakan bisa kita rasakan ketulusan Mbah Mulyadi saat pertama kali mengajarkan masyarakat di Kampung Batik Jetis cara membatik. Lalu melihat kejayaan gula dan ratusan hektar kebun tebu sejak era Van Den Bosch hingga Frans De Putte. Kini kita melihat Sidoarjo yang kian terbuka dengan perpaduan berbagai budaya. Hingga batik Sidoarjo pun tak lagi menyiratkan adat asli Sidoarjo tetapi juga budaya lain hidup dan berkembang di Sidoarjo. Saya pun jadi semakin penasaran, seperti apa rupa, warna dan cerita batik Sidoarjo puluhan tahun ke depan? Hmm…mungkin saya, kamu, kita semua, akan ikut menentukan…

You may also like

Leave a Comment