BatikWastraWisata

Kampoeng Batik Jetis

posted by Rika Isvandiary Februari 5, 2017 0 comments
Alun-Alun Kota Sidoarjo

Alun-Alun Kota Sidoarjo (Foto: Wijayanto BS)

Saya ingat hari itu, kurang lebih lima tahun lalu dalam suatu pameran di JCC, Senayan. Lelaki yang belum terlalu tua menghampiri saya. Ir. Nurul Huda namanya. Seorang dosen dari Universitas Airlangga yang menyapa para pengunjung dengan ramah. Pada saya Ir. Nurul Huda sedikit bercerita tentang keberadaannya di pameran itu. Beliau tengah giat mempromosikan Batik Jetis dari Sidoarjo. Mengusung tema “Sidoarjo Bangkit”, masyarakat Sidoarjo mencoba bertahan melalui kampanye budaya dan penjualan batik—setelah sebelumnya terhempas bencana lumpur Lapindo.

Logo Kampoeng Batik Jetis

Logo Kampoeng Batik Jetis (Foto: Wijayanto BS)

Tak sampai setengah jam saya berbincang dengan Beliau. Pun tak perlu lama-lama, hanya sebulan setelah pertemuan yang tak disengaja itu, saya memutuskan meluncur ke Sidoarjo. Selanjutnya, hampir setiap tahun saya melawat daerah yang dikenal dengan lambang udang bandeng itu. Sepanjang perjalanan ke Sidoarjo, saya disambut dengan hamparan permadani hijau yang seakan tak ada habisnya. Meski dikenal sebagai Kota Delta (karena wilayahnya yang ada di pesisir), namun hasil alam Sidoarjo tidak hanya berasal dari laut, tetapi juga dari sawah dan perkebunan. Kelak saya temukan, bahwa hasil alam yang berlimpah ini turut menjadi inspirasi berbagai motif batik di Sidoarjo. Saya pun semakin semangat mendalami keindahan batik Sidoarjo.

Tak membuang waktu lama, saya segera melangkahkan kaki ke Kampoeng Batik Jetis. Konon di sinilah pusat perkembangan batik Sidoarjo. Masyarakat setempat percaya bahwa masuknya batik ke Sidoarjo berawal dari pelarian Mbah Mulyadi—keturunan Raja Kediri yang bersembunyi di Sidoarjo saat dikejar tentara Belanda—pada tahun 1675. Selama dalam persembunyiannya di Sidoarjo, Mbah Mulyadi berdagang di Jetis, sekaligus mengajarkan proses pembuatan batik. Tidak hanya mengajar batik, Mbah Mulyadi lalu membangun Masjid Al Abror yang hingga kini masih berdiri dengan kokoh.

Masjid Al Abror Sidoarjo

Masjid Jami’ Al Abror Sidoarjo (Foto: Wijayanto BS)

Masa berlalu dengan cepat, bukan cuma di Jetis, pembuatan batik merambah pula di wilayah Sidoarjo lainnya, seperti Tulangan, Sekardangan dan Kedungcangkring. Lambat laun semakin banyak pembatik yang membuka usaha batik di Jetis. Sehingga pada 2008, pembatik muda di Jetis membentuk Paguyuban Batik Sidoarjo atau lebih dikenal dengan PBS. Potensi batik Jetis ini menarik perhatian Bupati Sidoarjo kala itu. Tidak dapat dipungkiri, pasca bencana Lumpur Lapindo, industri kecil kerajinan tas dan sepatu di Tanggulangin—yang menjadi salah satu industri utama Kabupaten Sidoarjo—menurun drastis. Bupati Sidoarjo berharap Batik Jetis mampu menjadi salah satu produk unggulan baru.

Pusat Batik Sidoarjo

Pelataran Pusat Batik Sidoarjo (Foto: Wijayanto BS)

Maka pada tanggal 3 Mei 2008, Bupati Sidoarjo meresmikan Pasar Jetis sebagai daerah industri batik yang diberi nama Kampoeng Batik jetis. Keberadaan Kampoeng Batik Jetis ini pun disambut hangat oleh pembatik Sidoarjo dan pecinta batik nusantara. Berbagai galeri dan toko batik memadati Kampoeng Batik Jetis. Ragam hias batik juga meramaikan dinding yang ada di sepanjang jalan Kampoeng Batik Jetis. Beberapa rumah dengan arsitektur Belanda dibiarkan tetap lestari, seakan bercerita perjalanan panjang daerah ini sejak tahun 1675.

Sayangnya, di Kampoeng Batik Jetis ini lebih banyak dipadati dengan galeri dan toko. Sedang untuk melihat proses pembuatan batik Sidoarjo, kita harus berkunjung lebih dulu ke rumah para pembatik yang tidak berada di bagian depan Kampoeng Batik Jetis. Tenang saja, kita bisa membuat janji dengan pedagang batik atau pemilik galeri di Kampoeng Batik Jetis jika berniat untuk melihat proses produksinya secara langsung. Tetapi jika hanya ingin belanja dan melihat keindahan batik Sidoarjo saja, Kampoeng Batik Jetis ini sudah cukup memanjakan mata.

Salah satu gang di Kampoeng Batik Jetis

Salah satu gang di Kampoeng Batik Jetis (Foto: Wijayanto BS)

Saat memasuki toko batik di Kampoeng Batik Jetis, saya tertarik dengan warna-warni batik Jetis yang meriah. “Ini motif apa Mbak?” Saya bertanya pada salah seorang penjaga toko batik di Kampoeng Batik Jetis. Perempuan berkerudung merah itu menjawab saya dengan ramah, “yang Mbak pegang namanya motif cecekan, itu salah satu motif asli Sidoarjo. Ini yang warnanya pink namanya motif Rawan, ini juga asli dari Sidoarjo. Batik Sidoarjo aslinya berwarna gelap, tetapi karena ada pengaruh dari Madura, sekarang warnanya jadi lebih cerah” Ujar penjaga toko sambil beberapa kali mengarahkan tangannya, menunjukkan beberapa kain batik yang menjadi koleksi di sana.

Motif Rawan Sidoarjo

Motif Rawan Sidoarjo (Instagram: kainusa.id)

Wah! Ternyata Sidoarjo punya banyak motif batik dengan ragam warna dan corak. Ada pula yang terpengaruh batik Madura. Saya pun semakin ingin menelusuri khazanah motif batik Sidoarjo. Perjalanan kami pun berlanjut hingga tahun 2017. Penasaran apa saja motif khas Sidoarjo? Bagaimana perkembangan motif batik Sidoarjo dari tahun ke tahun? Temukan jawabannya dalam hasil penulusuran kami di Sidoarjo pada artikel Kainusa selanjutnya.

Salam.

You may also like

Leave a Comment