Wawasan

Ingin Bisnis Fashion? Jangan Remehkan Tren

posted by Rika Isvandiary Oktober 20, 2016 0 comments
Fashion Show Koleksi Parang Kencana tahun 2012

Fashion Show Koleksi Parang Kencana (Foto: Wijayanto BS)

Fashion bisa dibilang salah satu lini bisnis yang “tidak ada matinya”. Siapa yang tak butuh sandang? Sebagai kebutuhan primer, semua yang berhubungan dengan dunia busana menjadi salah satu topik yang paling diminati. Busana memang tidak hanya berfungsi untuk menutupi dan melindungi tubuh. Sejak ribuan tahun silam, busana juga telah menentukan status sosial seseorang. Sebagai contoh, beberapa ukiran yang ada di Candi Borobodur menunjukkan bagaimana cara berpakaian masyarakat kelas bawah hingga putra-putri bangsawan. Bisa dibilang, sejak dahulu kala busana telah menyita perhatian banyak kalangan.

Meski begitu, busana yang dulunya dibuat sendiri tidak serta merta diperdagangkan. Umumnya perempuan biasa pada masa lampau membuat busana untuk dikenakan oleh keluarganya. Sementara keluarga kerajaan mempekerjakan beberapa ahli untuk menyiapkan busana yang mereka pakai—mulai dari busana sehari-hari hingga busana formal kerajaan. Ketika adibusana belum berubah menjadi industri besar seperti saat ini, umumnya busana putra-putri Raja yang dijadikan sebagai panutan atau dalam bahasa sekarang disebut dengan tren.

Charles Fredick Worth yang hidup di Prancis pada abad ke-19, disinyalir sebagai orang pertama yang membawa pembuatan busana ke ranah bisnis. Rancangan Worth yang biasa dikenakan keluarga bangsawan menarik perhatian banyak orang. Worth lalu mendirikan House of Worth dan memperkenalkan Haute Couture—kemahiran membuat busana tingkat tinggi, dimana prosesnya didominasi dengan buatan tangan (handmade).1 Inovasi lain yang dilakukan Worth adalah mengganti manekin dengan pagelaran busana yang diperagakan oleh beberapa orang model. Inilah yang kelak kita saksikan di panggung catwalk. Sepak terjang Worth ini kemudian membuatnya mendapat gelar sebagai “Bapak Adibusana”. Kini, di Perancis, untuk bisa membuat busana haute couture, seorang desainer harus tergabung dalam Chambre Syndicale De La Haute Couture Parisienne.

Fashion Show Koleksi Iwan Tirta

Fashion Show Koleksi Iwan Tirta (Foto: Wijayanto BS)

Harga busana haute couture tentu sangat fantastis. Hal ini membuat industri fashion berkembang dengan hadirnya fast fashion yang lebih banyak membuat pakaian ready to wear yang tetap mengikuti tren haute couture, namun dengan model yang lebih sederhana dan harga lebih terjangkau.2 Hingga saat ini, disadari atau tidak, para penggiat rumah mode di Perancis, Italia, Inggris dan Amerika masih sangat menentukan tren mode dunia. Mereka membuat rancangan untuk empat musim, memamerkan hasil karyanya di runway, mendapat liputan media, diperbincangkan oleh berbagai kritikus mode, lalu diangkat menjadi tema sentral berbagai majalah fashion, dan tren baru pun resmi tercipta.3

Secepat kilat, tren terbaru melekat pada tubuh selebritas dunia, tidak terkecuali pesohor di tanah air. Lihat saja, apa yang dikeluarkan rumah mode Perancis beberapa waktu lalu, hari ini sudah dimiliki artis sekelas Syahrini. Lalu esok-lusa sudah menyebar di pusat grosir dan online shop di kota-kota besar. Tentu dengan model yang tak terlalu rumit dan harga yang jauh lebih murah. Jika tak ingin tertinggal dari kompetitor, produsen pakaian jadi berbasis konveksi atau retail tak boleh mengabaikan apa yang terjadi di panggung runway. Begitu juga mereka yang menjadi reseller atau menjual pakaian via online, update tren mode harus terus dilakukan agar tidak salah menjual produk. Apalagi untuk mereka yang mendesain karyanya sendiri, informasi mengenai perkembangan tren mode terbaru dunia wajib ada di dalam kepala.

Fashion Show Koleksi IKAT

Fashion Show Koleksi IKAT (Foto: Wijayanto BS)

Bicara tren, biasanya juga akan menyinggung mengenai warna. Sering kan kita dengar pertanyaan: “warna baju yang lagi ngetren sekarang apa sih?” Jangan kaget kalau tiba-tiba jalan ke mal dan melihat hampir semua toko busana memajang warna yang serupa. Mungkin belum banyak yang mendengar sepak terjang Color Marketing Group (CMG), organisasi nirlaba yang didirikan di Amerika Serikat tahun 1962. CMG beranggotakan para ahli warna. Mereka bertugas untuk mengenali arah tren warna, lalu menerjemahkannya ke dalam warna yang dapat dijual. Mereka seringkali bertemu atas undangan Pantone, perusahaan yang bergerak di bidang warna. Biasanya Pantone akan mengeluarkan prediksi warna yang akan menjadi tren pada setiap musim. Tren warna mudah diikuti, Pantone biasanya mengeluarkan Pantone Fashion Color Report yang bisa dipesan secara online. Perkembangan tren warna terbaru juga bisa diikuti di website resmi milik Pantone. Jadi, pelaku bisnis fashion bisa tahu informasi warna terbaru tanpa harus menunggu warna yang digunakan dalam rancangan desainer ternama.4

Meski menurut Era Soekamto konsumen Indonesia yang kerap memantau tren terbaru hanya 20%, namun seiring meningkatnya kelas menengah di Indonesia dan perkembangan teknologi informasi, konsumen pun menjadi lebih jeli, kritis, dan “melek fashion”.5 Perkembangan ini bisa menjadi peluang bagi pelaku bisnis fashion untuk lebih dulu menyajikan karya-karya terbaik sesuai dengan tren mode dan warna terbaru yang akan mendominasi fashion dunia.


Referensi

[1] Marnie Fogg, The Fashion Design Directory, (London: Quintessence, 2011), hal.8
[2] Irma Hardisuryo, dkk., Kamus Mode Indonesia, (Jakarta: Gramedia Pustaka utama, 2011), hal.78
[3] Rahasia di Balik Tren, Majalah Fashion Pro Februari-Mei 2013, hal.25-26
[4] Ibid., hal.26-27
[5] Ibid., hal.31

You may also like

Leave a Comment