BatikWastraWisata

Jejak Batik di Mojokerto – Bagian 1

posted by Rika Isvandiary Oktober 14, 2016 0 comments

Wisata wastra mungkin belum familiar bagi banyak orang. Kalah telak dengan berbagai destinasi wisata yang digadang-gadang sebagai keajaiban dunia lewat promo yang begitu menarik. Namun, bukan berarti wisata wastra tidak layak untuk dicoba. Bagi kami menelusuri jejak kain Nusantara sambil singgah ke beberapa tempat bersejarah merupakan bagian dari perjalanan yang sarat makna. Tidak sekedar mengunjungi tempat-tempat yang indah, kami juga merasakan hangatnya kebersamaan saat bertemu dengan orang-orang baru. Selalu ada ilmu dan pengalaman yang bertambah. Ya, melakukan banyak perjalanan pada akhirnya semakin membuat kita mengerti hidup dan kehidupan.

Sebab perjalanan tak boleh dirasakan sendirian, bagi kami, berbagi catatan perjalanan—yang kami lakukan untuk semakin mengenal kain tradisional Indonesia—adalah bagian dari “mengenang” perjalanan itu sendiri. Kita akan mulai dengan menelusuri jejak batik dari salah satu Kabupaten di provinsi Jawa Timur, Mojokerto. Mungkin ada yang bertanya-tanya, mengapa bicara batik harus dimulai dari Mojokerto? Bukannya batik identik dengan Solo dan Pekalongan? Gak salah sih mengaitkan batik dengan beberapa kota yang memang menjadi pusat batik di Indonesia, tapi bicara tentang batik pun juga tidak bisa dipisahkan begitu saja dari kota yang satu ini.

Gapura Wringin Lawang

Candi Wringin Lawang. Konon merupakan pintu gerbang atau Gapura Kerajaan Majapahit. (Foto: Wijayanto BS)

Trowulan. Terletak di Kabupaten Mojokerto, Trowulan dipercaya sebagai pusat Kerajaan Majapahit. Sebagai salah satu Kerajaan terbesar di Nusantara, Majapahit memegang posisi penting dalam perdagangan di sekitar Asia Tenggara pada saat itu. Sebelumnya, ada kerajaan Sriwijaya yang dikenal sebagai kerajaan maritim. Setelah lama berkuasa, sisa-sisa kerajaan Sriwijaya ditaklukkan oleh Majapahit. Wilayah Kerajaan Majapahit pun semakin meluas. Bahkan beberapa kalangan mengklaim bahwa wilayah kekuasaan Majapahit meliputi juga Singapura. Kejayaan dan kekayaan Kerajaan Majapahit ini konon begitu tersohor ke mancanegara. Hal ini bisa dilihat dari luasnya kolam segaran yang ada di Trowulan.

Menurut catatan sejarah, kolam segaran ini dahulu digunakan untuk jamuan tamu kerajaan. Selesai jamuan, alat-alat makan yang sebagian besar terbuat dari emas dilemparkan ke dalam kolam segaran. Ini untuk membuktikan betapa kayanya Kerajaan Majapahit. Kemashuran Kerajaan Majapahit merambah ke semua lini. Mulai dari keindahan candi-candi yang ada di sekitar Mojokerto dan sekitarnya, hingga keindahan pakaian yang digunakan masyarakatnya, terutama keluarga Kerajaan. Catatan berbagai sumber pun hampir sepakat, bahwa pada era Majapahit batik sudah mulai dikenal.

Letak Majapahit yang berada tak jauh dari pesisir ditengarai sebagai salah satu sebab majunya peradaban di sana. Pada masa kerajaan Majapahit (1200-1500 M), negeri ini kedatangan pada pedagang dari berbagai negara. Kitab Negara Kertagama menyebutkan nama-nama negara itu antara lain Ayudhapura, Dharmanagari, Marutma, Rajapura, Campa, Kamboja dan Yawana. Negara-negara ini berada di kawasan Asia Tenggara.1 Konon, keterampilan membatik dibawa dari pedagang Cina dan India. Beberapa literatur menyatakan, bahwa batik sebagai teknik perintang warna sudah dikenal ribuan tahun silam.

Candi Bajang Ratu

Candi Bajang Ratu. Salah satu candi peninggalan kerajaan Majapahit. (Foto: Wijayanto BS)

Penggunaan teknik perintang warna pada kain sendiri diperkiraan sudah ada sejak Abad Ke-6 Masehi dalam peradaban Mesir kuno. Kain sutra yang menggunakan teknik perintang warna juga ditemukan di daerah Turkistan. Besar kemungkinan sutra tersebut diimpor dari Dinasti Tang, Cina (618-906 M). Penemuan yang tidak kalah penting adalah keberadaan sutra batik pada Periode Nara (646-794) di Jepang, yang sekali lagi diprediksi diimpor dari Cina.2 Sumber lainnya menginformasikan teknik membatik telah dikenal di India sejak lebih dari 2000 tahun lalu. Batik merupakan seni lukis India yang berasal dari Bengal (Bengali). Shantiniketan di Benggala Barat dipercaya sebagai pusat utama seni batik di India.3

Jika dipelajari dari jalur pelayaran sekitar Abad 7 hingga 15 M, beberapa artefak asing maupun arca-arca Syailendra (Abad 8-9M) dan prasasti lainnya memiliki kesamaan dengan datangnya pedagang asing serta fungsi strategis beberapa pelabuhan yang ada di pesisir utara Jawa Timur, termasuk Canggu di Mojokerto. Besar kemungkinan batik dibawa oleh para pedagang dari India dan Srilanka. Para pedagang ini lantas mengajarkan teknik membatik untuk melariskan barang dagangan yang mereka bawa. Pada awalnya teknik membatik ini diajarkan pada keluarga kerajaan. Selain berdagang dan mengajarkan batik, pada pedagang ini juga turut menyebarkan agama Hindu.4 Tidak mengherankan, jika ornamen menyerupai motif batik dapat dengan mudah ditemukan dalam arca atau patung Hindu.


Referensi

[1] Dr. Yusak Anshori dan Kusrianto, Keesksotisan Batik Jawa Timur: Memahami Motif dan Keunikannya, (Jakarta: Gramedia, 2011), hal. 3
[2] The British Museum, 5000 Years of Textiles, Edited by Jennifer Harris, (London: The Briitish Museum Press, 2010), hal. 39
[3] Dr. Yusak Anshori dan Kusrianto, Op. Cit., hal. 4
[4] Loc. Cit.

You may also like

Leave a Comment