BatikWastra

7 Tahun Pengukuhan Batik Indonesia oleh UNESCO

posted by Rika Isvandiary Oktober 11, 2016 0 comments

Tidak terasa tujuh tahun sudah, warisan turun-temurun bangsa Indonesia mendapat pengakuan dari organisasi internasional sekelas UNESCO. Siapapun tahu, pengakuan ini tidak diperoleh dengan mudah. Ada proses verifikasi yang terlebih dahulu harus dilampaui. Berdasarkan Konvensi Internasional Perlindungan Warisan Budaya Non Benda Manusia 2003 (Convention for The Safeguarding Intangible Culture Heritage Humanity 2003) yang terdiri dari 9 Bab dan 40 Pasal, ada beberapa ketentuan yang hal harus diwujudkan dari Warisan Budaya Non Benda.

Instalasi Batik

Instalasi batik pada pameran batik di Museum Nasional (Foto: Wijayanto BS)

Menurut Pasal 2 Konvensi ini, warisan budaya dapat berupa: (1) Tradisi dan ekspresi lisan; (2) Seni pertunjukan; (3) Kebiasaan sosial; (4) Pengetahuan dan kebiasaan perilaku mengenai alam semseta; dan (5) Kemahiran kerajinan tradisional.1 Jika mengacu pada lima kategori tersebut, batik setidaknya memenuhi tiga kategori, yaitu terkait ekspresi dan kebudayaan lisan, kebiasaan sosial dan kemahiran kerajinan tradisional. Mungkin sedikit aneh bagi beberapa kalangan, saat batik masuk dalam kategori tradisi dan ekspresi lisan. Namun jika menyimak perkembangan batik di Nusantara, hal ini sangat bisa diterima disebabkan pada sebagian besar masyarakat adat dan daerah di Indonesia, budaya bertutur masih sangat dominan.

Simak saja sejumlah macapat—tembang Jawa yang biasa dirapalkan dalam upacara-upacara penting, berisi mengenai petuah dan daur hidup manusia—yang tidak luput untuk merekam proses membatik. Gaya penuturan ini pun bisa ditemukan dalam Suluk Perawan Batik (Suluk Prawan Mbhatik) yang menggambarkan dengan sangat indah proses membatik dari mulai doa hingga selesai. Tak heran jika banyak pembatik di daerah yang mahir membatik tanpa pernah mengikuti kursus atau pelatihan formal. Mayoritas dari mereka diajarkan membatik oleh orangtuanya secara lisan. Dengan demikian, batik secara sah dinyatakan sebagai bagian dari tradisi lisan.

Sedangkan untuk kategori kebiasaan sosial dan kemahiran kerajinan nasional, eksistensi batik tidak diragukan lagi. Batik hampir selalu mendapat posisi sakral dalam sejumlah upacara yang biasa dilakukan di Jawa. Batik juga merupakan hasil kerajinan tangan yang diwariskan dari generasi ke generasi. Dahulu batik yang dikenal hanyalah batik tulis yang menggunakan canting dan lilin malam sebagai perintang warna. Terpenuhinya ketiga kategori tersebut membuat batik dengan mantap dikukuhkan sebagai Warisan Budaya Non Benda dengan File Nomination Batik Indonesia Reference No. 00170, 2009 pada tanggal 2 Oktober 2009. Peristiwa bersejarah ini lantas kita rayakan setiap satu tahun sekali sebagai Hari Batik Nasional.

Dampak Pengukuhan UNESCO Terhadap Perdagangan Batik

Pengukuhan UNESCO ini jelas membawa kebanggaan bagi Bangsa Indonesia. Sebab, meskipun sejatinya batik juga dimiliki oleh beberapa negara lainnya, namun batik Indonesia yang masih menggunakan canting dan lilin malam lah yang diakui sebagai warisan budaya dunia. Sejumlah kalangan pun menyambut gembira. Tiba-tiba saja gegap gempita batik yang meredup sejak zaman Orde Baru kembali menggeliat. Bangga menggunakan batik, menjadi jargon yang lumrah ditemukan di sejumlah poster, spanduk, atau papan reklame. Pada saat yang bersamaan, beberapa lembaga mewajibkan karyawannya mengenakan pada hari tertentu. Lalu kita mengingat bahwa hari Jumat adalah hari menggunakan batik ke kantor.

Seiring meningkatnya permintaan, industri batik pun terus melaju. Kampung Batik mendadak menjadi incaran berbagai kegiatan community development. Pameran kerajinan tradisional juga semakin sering digelar dengan pengunjung yang membludak. Sebut saja acara tahunan Inacraft yang tak pernah sepi pembeli. Bahkan dibutuhkan waktu berhari-hari untuk melawat satu per satu stand yang berjajar dalam ruang pameran. Tiba-tiba saja, animo masyarakat terhadap kain tradisional meningkat drastis.

Pusat batik di berbagai daerah pun mulai dikembangkan dari yang kelasnya grosir hingga galeri. Batik merambah industri fashion. Masuk ke mall-mall besar. Hilir mudik di atas arena catwalk. Serta menjadi incaran lensa camera fotografer profesional. Satu per satu pesohor tanah air berlomba-lomba membuat clothing line khusus batik. Beberapa daerah yang sejak dahulu ditopang oleh industri pakaian jadi, seperti Pekalongan, menjadi hidup dan sering dikunjungi wisawatan baik lokal maupun mancanegara.

Tidak hanya menyasar pasar lokal, batik juga sudah go international. Selebritis sekelas Jessica Alba pun dengan bangga memamerkan tubuhnya indahnya dalam balutan baju batik motif parang. Batik semakin mendunia. Nilai ekspor batik pun dikabarkan meningkat dari tahun ke tahun. Pada tahun 2015 lalu, ekpor batik mencapai USD 156 juta atau setara Rp 2,1 triliun, naik 10 persen dari tahun 2014. Negara tujuan ekspor batik antara lain: Amerika, Jepang dan Singapura.2 Tenaga kerja yang terlibat dalam industri batik pun ikut meningkat. Jika pada tahun 2011, hanya ada 173.829 orang, maka pada tahun 2015 lalu, jumlah tenaga kerja diperkiran 199.444 orang.3

Instalasi Batik Indigo

Instalasi batik parang indigo pada pameran batik di Museum Nasional (Foto: Wijayanto BS)

Pergeseran Batik di Indonesia

Meski secara hitung-hitungan di atas kertas batik mengalami peningkatan, namun sejumlah kalangan justru merasa khawatir. Popularitas batik yang menyentuh seluruh kalangan tidak diikuti dengan kemampuan daya beli yang mumpuni. Sebagai hasil buatan tangan, batik tulis dan batik cap memerlukan proses yang tidak sebentar. Apalagi untuk batik tulis yang menggunakan pewarnaan alami, proses pembuatannya bisa memakan waktu berbulan-bulan. Tak heran jika harga batik tulis dan batik cap tidak dapat dijangkau oleh semua lapisan masyarakat di Indonesia.

Peluang ini tidak disia-siakan oleh sejumlah pihak. Batik printing dengan harga yang jauh lebih murah menguasai pasar batik di Indonesia. Lihat saja Pusat Batik yang ada di Ibukota ataupun di daerah, bandingkan jumlah batik tulis, batik cap dan batik printing yang dijual, tentu jauh lebih banyak batik printing. Cek pula sejumlah akun online shop yang bertebaran di media sosial, rata-rata juga menjual batik printing. Sayangnya tidak semua orang memahami batik dengan baik. Toh pada hari Kamis, saya melihat para pegawai dengan bangga menggunakan batik printing. Padahal, berbagai pendapat menyatakan bahwa batik printing bukanlah batik, tetapi hanya tekstil dengan motif batik.

Siapa yang peduli apakah batik yang dikenakannya tulis, cap atau printing. Pun angka fantastis ekspor batik juga dilihat lagi, mana yang paling banyak diekspor? Jangan-jangan batik printing lagi yang menjadi juara. Secara industri pakaian jadi, batik printing memang menjadi primadona. Namun, lihat kembali dampaknya pada filosofi dan nasib pengrajin batik di daerah. Adakah ketiga kategori yang ditetapkan UNESCO mengenai, ekspresi lisan, kebiasaan adat dan kemahiran tradisional bisa ditemukan dalam batik printing yang menggunakan sablon atau mesin? Dimana nilai “warisan budaya”-nya, saat batik yang begitu sarat makna bergeser dari buatan tangan menjadi buatan mesin pabrik?

Pergeseran ini semakin mendangkalkan, menyederhanakan, dan menghilangkan kekuatan yang sesungguhnya terputus sehingga kabur batas.4 Pemahaman batik sekedar busana menjadikan nilai budaya yang melekat pada batik mengalami pergesaran, yakni merendah. Ini menjadi krisis budaya Indonesia di Indonesia sendiri.5 Ini pun masih ditambah dengan gempuran batik buatan Tiongkok, Malaysia dan Singapura. Banyak yang merasa sudah mengenakan dan melestarikan batik, namun ternyata batik yang dipakainya made in China. Hal ini semakin menjadi-jadi setelah adanya CAFTA6 yang semakin membuka jalan pelaku bisnis asing untuk mendominasi pasar tekstil di Indonesia,7 tidak terkecuali batik.

Menurut data Kemendag, impor TPT batik dan motif batik dari tahun 2012-2014 terjadi peningkatan sebesar 17,9% atau sebesar USD 13.246.115. Impor TPT batik dan motif batik tahun 2012 sebesar USD 73.896.340 dan pada tahun 2013 naik menjadi USD 80.860.197. Tahun 2014, impor TPT batik dan motif batik kembali meningkat menjadi USD 87.142.455 pada bulan Januari-Desember. Pada periode Januari-April 2014, importasi TPT batik dan motif batik sebesar  USD 28.132.270. Sementara pada Januari-April 2015, impor TPT batik dan motif batik kembali naik menjadi USD 34.916.179. Pada periode Januari-April 2015 terjadi kenaikan 24,1% dibandingkan periode yang sama tahun 2014.8

Menyikapi hal tersebut, Rachmat Gobel—yang ketika itu masih menjabat sebagai Menteri Perdagangan—mengeluarkan Permendag No.53/MDAG/PER/7/2015 Tentang Ketentuan Impor Tekstil dan Produk Tekstil (TPT) Batik dan TPT Motif Batik.9 Adanya aturan baru ini diharapkan dapat membatasi jumlah impor batik. Meski begitu, batik-batik buatan negara tetangga masih begitu mudah ditemukan di berbagai pusat perbelanjaan. Imbasnya, bukan saja pada pergeseran filosofi batik itu sendiri, namun juga semakin menipisnya pengrajin batik tulis di daerah. Menjadi pembatik tulis tidak lagi menarik, toh sebagus apapun karyanya, batik tulis tetap kalah saing dengan batik printing yang jauh lebih murah. Meskipun pasarnya ada, tetapi sangat terbatas. Tentunya kita berharap bahwa kekhawatiran para pembatik untuk “menunggu matinya batik tulis” tidak benar-benar menjadi kenyataan.

Ya, tujuh tahun pengukuhan batik sebagai Warisan Budaya Non Benda tentunya tak boleh membuat kita terlena. Jangan sampai euforia batik justru menghancurkan warisan budaya yang terangkum dalam sehelai kain batik itu sendiri. Konsumen masih perlu diberi informasi yang mumpuni, pengusaha dan pengrajin perlu bekerja lebih keras untuk menghasilkan karya yang sesuai perkembangan zaman namun tidak meningglkan filosofi batik. Dan yang terpenting, Pemerintah hendaknya membuat kebijakan yang dapat menyelamatkan batik sebagai (benar-benar) warisan budaya dunia.


Referensi

[1] Zahir Widadi, M.Hum., Pemaknaan Batik Untuk Masa Kini dalam Rembug Batik, (Yogyakarta: Desember 2015), hal. 14
[2] Siaran Pers Kementerian Perindustrian: Batik Indonesia Makin Mendunia http://kemenperin.go.id/artikel/15310/Batik-Indonesia-Makin-Mendunia, diunduh pada 30 September 2016
[3] Lani Pujiastuti, Diakui Dunia, Ekspor Batik RI Meningkat Setiap Tahun http://finance.detik.com/berita-ekonomi-bisnis/d-3034083/diakui-dunia-ekspor-batik-ri-meningkat-setiap-tahun, diunduh pada 1 Oktober 2016.
[4] Zahir Widadi, M.Hum., Op. Cit., hal. 11
[5] Ibid., hal. 17-18
[6] Perjanjian Perdagangan Bebas ASEAN-China ( ASEAN-China Free Trade Agreement) pada awal Januari 2010. Perjanjian CAFTA adalah sebuah kesepakatan di antara 10 negara Asia Tenggara dengan China untuk berdagang secara bebas dengan maksud melonggarkan bea masuk.
[7] Rochman Achwan, Hidup Bersama Oligarki Bisnis Pakaian Jadi di Daerah dalam Prisma: Perselingkuhan Bisnis dan Politik kapitalisme Indonesia Pasca-Otoritarianisme, Vol. 32, No.1, 2013, (Jakarta: LP3ES, 2013), hal. 76
[8] Kementerian Perdagangan Republik Indonesia, Siaran Pers: Implementasikan Trisakti,  Rachmat Gobel Perketat Importasi TPT Batik dan Motif Batik, Jakarta 30 Juli 2015.
[9] Ibid.

You may also like

Leave a Comment