Warita

Mukadimah: Catatan Sebuah Perjalanan

posted by Wijayanto B Santoso Mei 21, 2016 0 comments

Ada guru yang mengajarkan seseorang secara terus menerus sepanjang hidup. Ia mulai bekerja saat memori manusia dapat mengingat perbuatan dan tindakan yang dilakukannya. Baik itu perbuatan yang baik dan yang buruk, yang benar maupun yang salah. Konsekuensi yang hadir hasil dari perbuatan tersebut kemudian menjadi penyebab apa yang akan terjadi selanjutnya. Karena, bukankah pada hakikatnya hidup ini adalah perihal kausalitas? Tentang hubungan sebab-akibat, atau hukum aksi-reaksi kalau kata Isaac Newton. Lalu ada saat ketika kita harus memilih, apakah akan menjadikannya sebagai pelajaran berharga, atau melupakannya begitu saja. Maka ketika kita memilihnya sebagai pelajaran, ia hadir agar kita akan dapat menghindari kesalahan yang sama di masa depan. Kita biasa memanggil Sang Guru dengan nama: “Pengalaman”.

Selain pengalaman, kita juga belajar dari banyak hal di sekitar kita. Saat duduk di bangku sekolah hingga kuliah, kita belajar dari para guru dan para dosen, dari berlembar-lembar halaman buku-buku, juga dari halaman-halaman website di layar laptop dan komputer. Namun pembelajaran tidak hanya terbatas di bangku sekolah dan institusi pendidikan. Pembelajaran dapat berlangsung di acara-acara seminar, pelatihan, workshop, diskusi, kuliah umum, media massa, dan sarana berbagi ilmu lainnya. Dari semua sumber ilmu itu pada akhirnya akan menjadi bekal kita dalam mencerna dan memahami suatu permasalahan. Bekal yang kita sebut sebagai: “Wawasan”.

Pengalaman dan wawasan, kedua hal itulah yang ingin kami bagi kepada lebih banyak orang. Di era internet yang sangat memudahkan manusia untuk berbagi informasi, kami memilih media blog sebagai sarananya. Selain dapat diakses dari mana saja, blog juga dapat dijadikan sebagai tempat berdiskusi sehingga terjalin komunikasi 2 arah antara penulis dan pembacanya. Tidak seperti sosial media yang hanya dapat diakses oleh pengguna sosial media di platform yang sama (misalnya di Facebook, hanya orang-orang yang tergabung di Facebook yang dapat berinteraksi), sarana blog lebih terbuka kepada seluruh pengguna internet. Selain itu blog juga memiliki keunggulan dalam hal pengarsipan.

Kami menamakan blog ini dengan nama: Jurnal Kainusa. Konten dalam jurnal ini akan dibagi menjadi 4 kategori utama 4W, yaitu:

  1. Warita (sinonim dari cerita). Menjadi wadah bagi kami untuk bercerita tentang pengalaman-pengalaman Kainusa dalam membangun bisnisnya. Sebab, kelahiran Kainusa adalah bagian tak terpisahkan dari proses kehidupan para pendirinya.
  2. Wastra. Istilah ini dicuplik dari bahasa Sanksekerta. Wastra bisa diartikan dengan kain. Dalam kategori ini kita akan mengenal lebih dekat wastra nusantara, mengulik sejarah panjang industri kain tradisional di Indonesia, mempelajari motif dan warni-warni warisan budaya, dan mengulas lebih dalam runutan kisah di balik keindahan sehelai kain tradisional.
  3. Wawasan. Kategori ini merupakan ruang bagi kami untuk berbagi inspirasi, ide, wacana dan pengetahuan seputar bisnis rintisan (start-up) dan UMKM yang bergerak di bidang wastra. Merupakan sebuah upaya kami untuk terus mendukung geliat industri lokal agar dapat bergerak maju dan berkembang.
  4. Wisata. Adalah catatan perjalanan kami menelusuri proses pembuatan kain-kain tradisional di Indonesia, menyelami ragam rupa hasil karya para pengrajin, sembari menyapa masyarakat setempat, belajar adat budaya yang tetap lestari, dan menjelajahi keindahan alam negeri khatulistiwa yang tiada habisnya.

Semoga usaha kami ini dapat bermanfaat bagi siapa pun yang membacanya.

Selamat membaca, Kawanusa!

🙂


P.S: Sebelum menamakan kategori-kategori ini menjadi 4W, awalnya nama-nama kategori dalam blog ini adalah Wastra, Bisnis, Wisata, dan Kainusa. Namun kemudian co-founder kami —Rika— muncul dengan idenya untuk mengubah nama kategori Bisnis menjadi Wawasan dan kategori Kainusa menjadi Warita. Terlihat lebih keren dan terkonsep bukan? 😀

Leave a Comment